Benak Kekanakan

9206448166_b45803a22e_b

Kepada R,

sebelumnya saya ingin berterima kasih. Bukan—lagi-lagi—karena melimpahnya rasa sayang yang tanpa henti kamu berikan, tapi karena kamu telah berhasil membukakan jendela baru buat saya.

Ingatkah, R, bagaimana dulu saya begitu membenci puisi? Kalau tidak ingat, akan saya kenangkan kembali buatmu; saya pernah membenci puisi, membencinya dari lubuk hati yang paling dalam. Betapa pun kamu sudah buatkan puisi-puisi itu dengan segenap rasa, saya justru bertingkah konyol (menurut saya di masa kini, tindakan saya kala itu sangat konyol) dengan hanya merespons lewat kekata, “Terima kasih, tapi aku enggak ngerti maksudnya.”

Tapi kamu tetap sabar, R. Entah kamu sabar atau kecewa—tampaknya kedua hal itu berseberangan namun hanya disekat batas tipis tak kasat mata, di dalam kepribadianmu. Kamu, pada akhirnya, tetap membombardir saya dengan puluhan bait puisi yang masih saja tak bisa saya mengerti.

Kemudian, keadaan mulai jadi berbeda. Pernah suatu ketika, saya balas puisi kamu dengan untaian kata teramat panjang yang bagi saya tak bermakna namun entah bagaimana malah membekas di dirimu—sungguh saya heran. Saya yakin, pasti sudah sejak lama kita sama-sama terlupa akan momen itu. Tapi tak masalah buat saya, karena yang terpenting bukan apa yang ada sejak awal; yang terpenting adalah apa yang bertahan sampai akhir (semoga kekata ini benar adanya). Saya tetap membenci puisi, tapi anehnya, saya ketagihan dan tendensi tersebut pada akhirnya berubah wujud jadi keranjingan yang rasanya sudah telanjur sulit buat dihentikan begitu saja.

Saat itu, saya jatuh cinta kepada perihal lain selain kamu. Saya jatuh cinta kepada puisi-puisimu. Terlebih ketika kita mulai mengubah tradisi berkirim puisi jadi berbalas puisi. Terima kasih; untuk pertama kalinya dalam hidup yang singkat nan fana ini, saya merasa tengah bertukar napas dengan sosok yang semu namun sungguh hidup. Terima kasih karena telah membukakan jendela itu untuk saya. Terima kasih.

Tetapi, bukan itu inti dari guratan papan-ketik saya kali ini. Sedari siang tadi sesungguhnya benak kekanakan saya begitu menggebu-gebu ingin menarik perhatianmu lewat sekelumit perolehan onceinalifetime yang, tumben-tumbenan, saya dapatkan. R, tahukah? Beberapa hari yang lalu, saya kembali (diminta untuk) menulis (baca: mengetik) puisi setelah sekian lama diam dan membiarkan papan-ketik saya menggemuk dipeluk debu. Puisi saya yang masih merupakan karya amatiran dan kelewat mengawang-awang itu dibacakan oleh salah seorang rekan seperkuliahan saya pada sebuah acara konser amal dan, kalau saja kamu bisa datang, mungkin sedikit bagian dari hatimu yang agaknya kaku itu juga bakal tersayat jika menyaksikan bagaimana rekan saya yang satu ini membawakan berlembar puisi di tangannya.

Haha, tenang. Saya tak senarsis itu, kok. Kamu tahu maksud dari kalimat-kalimat di baris ini pastinya.

Sangat aneh rasanya menerima begitu banyak pujian akan puisi yang saya ciptakan, jika mengingat latar belakang saya dan sebesar apa kebencian saya di masa lalu terhadap puisi dan sejenisnya. Begitu banyak teman yang menyalami tangan, merangkul bangga, atau bahkan memeluk haru dan sayang karena mereka agaknya tak pernah menyangka bahwa saya yang katanya berperawakan sangat keras dan tangguh ini ternyata punya sisi sensitif juga lewat guratan penanya. Padahal, tangguh dan sensitif tak mesti berseberangan atau bahkan berbanding terbalik. Iya kan, R?

Semoga kamu mengangguk dalam lelapmu.

Dan sebagai tambahan untukmu yang tengah sibuk menjalani kehidupan di dunia paralel, R, kurang dari sebulan lagi saya bakal dilibatkan dalam sebuah perhelatan akbar bidang seni di kampus tercinta. Sekali lagi, guratan pena saya bakal diuji, kali ini melawan kurang lebih tiga belas peserta kompetisi yang lain. Saya waswas, jelas. Cemas, tentu. Saya tak ingin jadi munafik dengan mengabaikan suara-suara kekanakan di kepala saya yang seringkali mengeluhkan keterlibatan saya di dalam kompetisi ini sebagai suatu beban. Jelas ini beban; beban yang mesti saya pikul demi mengharumkan ungu fakultas yang menaungi saya.

Saya tahu membran timpanimu mungkin sudah kebas akan ucapan terima kasih—terlebih dari saya. Tapi, mau bagaimana lagi? Yang mengenalkan saya kepada puisi adalah kamu, pujangga pribadi saya. Kalau bukan gara-gara mengenalmu, kemungkinan besar saya tak bakal terlibat dalam segala hiruk-pikuk perhelatan kompetisi ini. Bahkan hingga sekarang pun, sesungguhnya saya masih kerap bertanya, mengapa saya?

Makanya, saya butuh eksistensimu.

Saya harus menghela napas dalam-dalam. Membuangnya perlahan. Jika sempat, di lain kesempatan saya mungkin akan berkisah lebih banyak lagi tentang segala urusan perpuisian ini… termasuk di dalamnya sosok dingin-misterius-tak-terprediksi ini yang belakangan jadi mentor saya. Tapi tidak sekarang, R, karena jam di layar kaca sudah memperingatkan agar saya lekas kembali ke tempat peraduan. Ada baiknya kamu juga menurut pada jejarum yang terpatri dalam jam bekermu, R. Supaya bangunmu tak didahului kenaikan matahari. Setelah kamu terbangun, mungkin saya bakal bercerita lagi.

Sampai jumpa. Terima kasih sudah mau berbaik hati mendengar celotehan saya lewat telinga semu milikmu.

Oktober 2014,

Pecinta lampu jalanan di malam hari.

P.S: Omong-omong, saya sedang mendengarkan versi piano Gone oleh Jin ketika menggurat pena pada pengujung surat sepihak ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s