Mustahil untuk Ditemukan

silhouette in a subway tunnel. Light at End of Tunnel

Lagi-lagi kepada Tuan R,

ada yang salah di sini. Entah apa, tapi saya merasa salah. Sangat salah terhadapmu.

Tampaknya saya mesti minta maaf—tunggu! Sebelum kamu mulai menyalahkan dirimu sendiri, tolong… berhenti di situ. Ini murni kesalahan saya. Saya sendiri.

Selama ini saya menuntutmu dan bersikukuh bahwa kamu tidak bisa berusaha lebih keras untuk kabur dari dunia paralelmu dan kembali ke sini, kepada saya. Selama ini saya bersikeras bahwa sayalah yang berusaha paling banyak untuk segala masalah saling-membutuhkan ini. Saya selalu berkoar bahwa sayalah yang lebih kuat, sayalah yang lebih tangguh, sayalah yang lebih mengusahakan segalanya. Saya dan hanya saya yang berusaha keras untuk membentur, menghancurkan-kembali, membangun, dan kembali menghancurkan seraya membentuk-kembali dinding pemisah ini. Saya berkeras hati bahwa saya selalu ada.

Secara fisik. Nyatanya tidak secara mental, psikis.

Bukannya tidak sama sekali, tapi belum. Belum sebesar usahamu.

Maka dari itu saya katakan, tampaknya saya mesti minta maaf. Tampaknya saya terlalu sibuk berusaha untuk ada secara fisik tapi tidak ada secara psikis. Tampaknya setiap kali fisik ini tampak di matamu, jiwa ringkih penghuni raga ini tak ada di sana. Tampaknya dia terlalu sibuk berkelana; terlalu sibuk mencari-carimu dan lantas menuntutmu lagi ketika kamu tak ada di sana—tentu kamu tidak ada di sana, karena selama ini kamu berada di sini.

R, biasanya saya bukan orang sensitif; saya lebih dingin dan keras dari batu mana pun. Tapi, terima kasih kamu sudah mau bersusah hati menjadi tetes-tetes air yang melubangi satu titik dari keseluruhan hati saya yang mulai membatu karena beberapa orang tolol di masa lalu. Malah, tampaknya titik itu bukan hanya sudah berlubang, tapi tembus ke sisi satunya.

Di sisi itulah saya jadi cengeng, kelewat cengeng untuk bisa menghadapi dunia tanpa pegangan seperti kamu atau r.

Dan tampaknya inilah salah satu alasan mengapa keberadaan psikis saya lama absen dari sisimu: saya terlalu sibuk mengurusi r kecil yang rapuh hingga melupakan R besar yang membutuhkan penyeimbang di sisinya—dengan kata lain, sama rapuhnya. Maaf—sungguh, saya minta maaf.

Malah… sesungguhnya ada satu hal lagi yang mengganggu benak saya.

Selama bulan-bulan terakhir ini saya merasa begitu tenang, luar biasa tenang. Segala keluh-kesah saya lampiaskan lewat puisi, cerita, kegiatan-kegiatan penguras keringat—malah saya tak bisa ingat kapan terakhir kali saya buat jemari ini berdarah dengan sengaja—tapi ternyata, kehidupan untuk orang semacam saya tidak bisa sesederhana itu.

Saya mempertanyakan ketenangan ini, tentang bagaimana saya bisa tersenyum lebih sering, tertawa lebih lepas, lebih jarang menangis… saya pun terkejut akan segala ‘kemajuan’ ini. Tapi, tidak seperti itu. Saya bukan orang seperti itu dan tidak akan pernah jadi senormal itu. Suatu bagian dalam diri saya, mungkin titik berlubang di hati yang saya sebutkan tadi, nyatanya masih bermasalah. Dan itu terbukti malam ini.

Ada sebuah lagu yang serta-merta langsung menusuk titik berlubang itu. Sederhana, dan dengan kesederhanaannya dapat dengan sederhana melukiskan kesederhanaanmu. Lagu ini, sedikit-banyak mengingatkan saya akan persimpangan yang suatu saat nanti mesti kita lewati. Begitu mendengar lagu ini dan meresapi untaian-untaian baitnya, benak kekanakan saya sontak berimajinasi andaikata kamu yang melantunkan itu. Hasilnya, beberapa bulir bening yang keluar dari balik pelupuk mata.

Kalau sudah begini, hanya kamu yang tahu artinya.

Oktober 2014,

Pemilik hati-batu berlubang

—Ada bagian dalam lagu tersebut yang menyatakan bahwa, seseorang sepertimu mustahil untuk ditemukan. Dan ya, saya akan mengingatmu malam ini, dalam lelap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s