Luka Menganga di Tangan Kanan

Terlampau melankoli jika kubiarkan luka ini melubangi hati dan kata Satu-satunya yang Tuan lukai hanyalah tangan hamba Tangan kanan yang mencipta; mencipta karena Tuan juga Maka itu kubiarkan luka ini menganga dan kubiarkan belatung dan lalat dan semut pendamba madu makan darinya Sedang aku masih bakal duduk di atas singgasana Mencipta dengan tangan berluka November […]

Berikan saya gedung pencakar langit buat saya berteriak.

Sejentik pendahuluan. Entahlah. Rasa-rasanya saya kepengin berteriak. Berteriak, menjerit, memekik—sebut saja apalah itu namanya—tanpa mesti repot-repot mengkhawatirkan respons macam apa yang bakal ditujukan orang terhadap saya nantinya. Saya kepengin memanjat gedung pencakar langit; gedung bertingkat seratus (atau lebih) kalau perlu, supaya teriakan ini bisa saya lepaskan jauh-jauh dan biar saja angin busuk yang membawa mereka […]

LUKA.

TUAN MELEBARKAN SAYAP MENAUNGI ILALANG KERING TAK BERNAMA BULAN MEMANDANGI KOSONG MEMBIARKAN SENJA MERAH DALAM REKAHNYA MELUAP MERASAI API KELAM PANGERAN DIBIARKAN MATI DALAM KETIDAKTAHUAN.

Piring Kosong

Teruntuk apa yang kuning di antara timbunan jelaga. Kala perutmu lapar, datanglah kepadaku Sejuta gandum menguning kuberikan buatmu Datanglah kepadaku Dari tepi hamparan kebun Lembar demi lembar sayur-mayur kuhidangkan buat benakmu yang lelah. Dan untukmu bebijian kuning di pucuk lumbung. Ada pula kebun-kebun bebuahan dan kenari kuning dan anggur yang menari-nari di pelupuk cawan Bila […]

Bintik (2)

Kuucap salam pada dunia penggiring jiwa-jiwa lugu ke bentang permadani tak berbatas Lingkar kelam eboni membingkai nyawa terbeku Dari inci hingga mikro Dari mili menyentuh piko Apa yang tersembunyi di balik bening kornea Adakah lidahmu kelu lantaran segala rupa jumawa tertinggal di sana Bentang dermis adalah gunung-gunung dalam remang. Silia menjelma jadi hutan Sapuan darah […]