Marah Senja Merah

9206448166_b45803a22e_b

Saya juga melihat
Saya juga mendengar
Saya juga bicara
Saya juga meraba
Saya juga menghidu
Apa itu di balik topeng retakmu
Cuma sebutir jiwa ringkih
dan benak kekanakan
Tak juga mau mengaku

Saya juga merasa
Saya juga gembira
Saya juga berduka
Saya juga terluka
Saya juga kecewa
Jangan coba-coba berdiri sendiri
di atas kakimu yang buntung kiri
Mengaku-aku berani

Boleh jadi Bulan berbangga hati
atas hingar bingar puja puji
Pangeran menari dan Permaisuri mainkan biola
Lagu-lagu merasuki kerajaan kerdil
Dan Pulau yang bakal kau bangun
Saat tidurmu nyenyak napasmu membatu
Saat datang sekarat kau pinta matahari
dan merahnya membakar udara
Menjadi perisai karat
Dan dalam karatmu engkau lupa

Bahwa:
saya matamu
Telingamu hidungmu
Kulit dan lidahmu
Tangan kakimu
Badan dan kepalamu
Air matamu
Amarahmu
Cabikan-cabikanmu
Tetes darahmu
Luka-lukamu
Senang sedihmu
Nistamu
Obsesimu
Birahimu
Sintingmu
Langkah-langkahmu
Tabuhan genderangmu
Setengah hidup dan pada akhirnya jugalah
Matimu
Saya penghuni mutlak
Di Balik Layar
eksistensimu

Saya juga hidup
di balik sisa tahunan umurmu
Lagi-lagi bakal berkurang satu itu
dalam kurung riuhan semu

Kereta.
Beberapa jam sebelum menyambut penantian Senja Merah.
November 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s