Percakapan Pangeran dan Bulan

9206448166_b45803a22e_b

(1)
Debur ombak membawa suara tangis seorang hawa
Aku tertegun dalam alunannya
Mendengar ombak yang mengalunkan kepedihan
Air matanya jatuh
Dia menjerit
Dia terluka
Dia menanti
Tanganku berayun menyentuh deburan ombak itu
Kusisipkan pesan hati
Aku akan kembali
Kembali untuk mengusap laramu
Menghapus sedihmu
Bukan untukmu bukan untuk siapa pun
Tapi hanya karena yang kuinginkan
Hanya kau

(2)
Karena doa lebih mewakili rindu.
Bisikan senandung sendu lebih mewakili kegundahan hati.
Mata yang terus menatapmu dari balik selambu lebih mewakili sentuhan lirihku.

(3)
Rinduku melebihi taburan bintang di langit.
Buih lautan tak bisa mewakili segala lirih yang kulantunkan untuk merindumu.
Bahkan berjuta debu tidak bisa mewakili betapa ingin kurengkuh dirimu dalam pelukan malamku.

(4)
Terlantun kesedihan setiap kali kau tahu bahwa dalam hening malam aku tetap ada di setiap mimpimu.
Bahkan aku merengkuhmu dalam rengkuhan rindu yang tak pernah bisa diukir dengan pena manapun.
Aku selalu ada dalam setiap langkah demi langkahmu. Dalam doa. Bahkan setiap kau bertemu embun pagi. Aku ada di setiap hela napasmu.

Dan bagaimana sang Pangeran yakin Bulan-nya masih dapat bernapas dalam hening eksistensi tunggal pada esok pagi? Boleh jadi rindunya bertumbuh riuh semisal hamparan bintang di cakrawala semesta, namun Bulan takkan mampu melarikan diri dari garisan takdir kodrati sebagai benda langit yang selalu bersinar sendiri.

(5)
Karena aku adalah langitmu. Tempatmu menyinari bumi. Memelukmu setiap malam tanpa kau perlu tahu. Menjagamu dengan luasnya ragaku. Memerhatikan gerak-gerikmu dalam setiap langkahmu. Semua itu tanpa perlu kau tahu. Bahkan aku melihatmu kala mentari mulai berpijak di harinya.

Tapi, langit bukan cuma sibuk memikirkan Bulan; masih ada mentari dan bintang-gemintang.

Bahkan sinar bulan sesungguhnya palsu. Pangeran dan Bulan sama-sama tahu itu.

(6)
Ingat. Tanpa perlu kau tahu aku adalah langit malam untukmu.

Tak masalah dengan hal-hal itu. Pada akhirnya yang kuinginkan hanya satu. Kau.

Pangeran macam apa yang mendamba pancaran sinar ringkih nan fana, sedang dari kakinya bangkit berjuta kemewahan kerlap cahaya matahari yang sesungguhnya?

(7)
Karena pancaran sinar itu yang menarikku. Tak perlu kemewahan karena aku sanggup dengan mudahnya untuk menggapai itu semua. Kau berbeda. Kau satu hal yang harus kulindungi.

(8)
Aku hanya pujangga yang menatap bulan dengan senyum simpul.

Dasar pujangga yang menatap bulan dengan senyum simpul.

(9)
Lalu kau mengingkan aku menjadi apa? Cukuplah aku menjadi pendambamu dalam langit malam.

Jangan cuma jadi pendamba ketika langit malam; jadilah penanti ketika Bulan tenggelam di balik langit siang hari.

(10)
Tanpa perlu kau minta aku adalah langit yang menunggumu di kala embun pagi mulai muncul. Dan penjagamu kala gelap menyelimuti.

Penjaga kasat mata.

(11)
Aku penjaga rapuhnya hatimu, bulanku.

November 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s