Berikan saya gedung pencakar langit buat saya berteriak.

9206448166_b45803a22e_b

Sejentik pendahuluan.

Entahlah. Rasa-rasanya saya kepengin berteriak. Berteriak, menjerit, memekik—sebut saja apalah itu namanya—tanpa mesti repot-repot mengkhawatirkan respons macam apa yang bakal ditujukan orang terhadap saya nantinya. Saya kepengin memanjat gedung pencakar langit; gedung bertingkat seratus (atau lebih) kalau perlu, supaya teriakan ini bisa saya lepaskan jauh-jauh dan biar saja angin busuk yang membawa mereka pergi nanti. Saya cuma ingin berteriak sekeras-kerasnya, membuang jauh-jauh semua karat dan lumut-lumutan ini dari benak saya yang kian hari kian keruh saja tampaknya. Saya cuma ingin membuang mereka-mereka ini jauh-jauh. Sesederhana itu.

Tapi, jangankan untuk berteriak dengan bebas, punya tempat sendiri untuk merenung saja tidak. Tidak ada privasi, tidak ada ruang—baik dalam konteks harfiah maupun non-harfiah—untuk saya sendiri, tidak ada waktu untuk saya habiskan sendiri. Semuanya harus dihabiskan dan dilalui bersama manusia-manusia yang lain, yang ada di sekitar saya dengan peran mereka masing-masing. Sedangkan tidak ada ruang, space kosong untuk saya sendiri. Tidak ada sama sekali.

Lalu, manusia-manusia ini akan selalu—dan sampai saya mati pun, akan selalu–mengintervensi saya dengan segala argumen mereka, keinginan mereka, kepentingan mereka, dan sebagainya. Tidak ada ruangan netral untuk saya sendiri. Tidak pernah ada ruang yang memungkinkan saya untuk mengambil keputusan sendiri dan membiarkannya tetap seperti itu.

Pernah merasa begitu kembung dan penuh sampai ingin muntah? Nah, demikianlah yang sedang saya rasakan. Makanya saya sangat butuh berteriak.

Tapi, lagi-lagi, tak ada ruang buat saya sendiri. Alhasil, di sinilah saya: kembali duduk di atas kursi putar, menghadap layar komputer, dan dengan depresinya mengetikkan beberapa potong bagian yang mengganggu dari hidup saya. Alih-alih saya yang berteriak, gendang telinga saya justru kini digempur dengan puluhan lagu yang sengaja saya setel keras-keras.

Saat ini, saya bahkan tidak tahu pasti apa yang saya butuhkan. Selain ruang dan waktu buat menyendiri.

Mungkin, satu lagi hal yang saya butuhkan adalah psikiater—kecuali kalau mereka nantinya berusaha mengintervensi saya juga.

Mungkin, saya yang salah. Mungkin.

Apa yang begitu salah dari keputusan sederhana yang saya ambil? Apa yang begitu salah dari keinginan saya untuk memenuhi passion saya? Apa yang begitu salah dari kebutuhan saya untuk merasa senang, puas, dan bangga atas pemenuhan terhadap passion saya sendiri? Mengapa puluhan, ratusan, ribuan—entahlah, mungkin ratusan ribu sesama saya di luar sana bisa memenuhi keinginan mereka tanpa harus dibelit dilema? Apakah sebegitu salahnya jika saya mencoba memenuhi impian saya yang sederhana?

Bagi kalian semua (semua, maksud saya), apa-apa yang saya kejar mati-matian ini mungkin sederhana, sepele. Tapi ini tidak sesepele itu. Saya bernapas di sini. Bernapas menghirup udara yang lama saya idam-idamkan. Kalian semua tidak mengenal udara macam apa yang saya maksud ini dan tak bakal pula menikmatinya, makanya tak satu pun dari kalian memahami sepenting apa udara ini buat saya. Tidak bakal ada yang memahami, sampai kapan pun.

Akan tetapi, tetap saja kesalahan ada di saya yang terlalu semangat berpetualang hingga mengabaikan sosok-sosok ringkih yang senantiasa berjalan gontai di belakang saya untuk menjaga kalau-kalau saya kelelahan.

Wahai dunia, kalian mau saya melakukan apa?

Saya tidak pandai mengungkapkan perasaan, karena agaknya ini merupakan dampak dari arahan yang diberikan terhadap perilaku saya sewaktu kecil. Tapi, akhir-akhir ini saya sudah mencoba mengungkapkan apa yang harus saya ungkapkan, saya sudah mencoba mengutarakan apa yang harus saya utarakan, saya sudah mencoba melakukan apa yang harus saya lakukan. Mulai dari cara paling halus dan manusiawi sampai cara yang, sayangnya, harus didahului dengan prosesi bentakan-dan-tangisan yang amat sangat tidak saya sukai. Lagipula, pada akhirnya apalah arti air mata saya yang tumpah. Iya, bukan?

Tapi, di akhir, tetap tidak ada solusi yang menguap dari didihan segala perkara bentakan-dan-kemudian-air-mata ini. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal, kita sama-sama tahu bahwa tak ada batin yang sama sekali sembuh setelah melewati segala prahara ini. Semua berkata bahwa hal semacam ini jangan dipikirkan, tapi itu sama artinya seperti berpura-pura tidur siang di tengah peperangan.

Saya sedih, sungguh. Tetapi dunia memungkiri itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s