Terbuai dalam Keterbuaian yang Membuai

9206448166_b45803a22e_b

(Mungkin) Tidak ada argumen, dalil, maupun teori ilmiah yang dapat membuktikan pernyataan saya berikut ini, tapi saya—entah bagaimana—meyakini bahwa tak ada satu pun manusia di muka bumi yang tak pernah dihadapkan dengan dua pilihan. Kalau tidak pernah mengalaminya, berarti dia bukan manusia.

Saya teringat pada suatu kisah.

Seorang bocah ingusan menginjakkan kaki di atas tanah Depok, merasai sejuknya udara kampus rakyat untuk pertama kali. Tanpa haluan, tanpa idealisme, tanpa perbekalan kemampuan softskill yang sering dielu-elukan orang, tanpa secuil pun pengalaman organisasi, tanpa sedikit pun minat, tanpa mengenal makna istilah ‘aktivis’ dan ‘apatis’, dan tanpa rencana bakal jadi orang macam apa dia di tempat ini. Dia cuma bocah yang tak tahu apa-apa tentang dunia perkampusan lantaran keluarganya tak berlatarbelakang pendidikan tinggi. Bisa kuliah dan menyandang sebutan ‘mahasiswa’ saja sudah anugerah tak terkira buat benaknya yang masih kekanakan.

Sejak pertama kali namanya tertera sebagai calon mahasiswa di kampus dambaan manusia-manusia obsesif nan ambisius itu, dia sudah bertekad dalam hati bahwa tak bakal sedikit pun tangan-kakinya menyentuh perkara selain belajar, dan belajar. Tapi kenyataannya, salah besar kalau niat semacam itu dijadikan prinsip hidup di tempat ini.

Kemudian, tibalah dia pada masa-masa yang paling dibencinya.

Masa orientasi, persetan. Bahkan sejak tiga tahun lalu, dia sudah kelewat apatis dengan segala tradisi tak esensial ini. Dia telah memaknai rasa muak ketika sekumpulan orang yang menyebut diri mereka sendiri ‘kakak kelas’ mengharuskannya memakai topi caping, kalung bawang putih, dan atribut-atribut tolol lainnya yang sama sekali tak beresensi. Dia cuma ingin sekolah, tak mau jadi bagian dari tradisi tak esensial yang katanya merupakan instrumen penguat mental siswa baru itu. Dan sekarang ketika seragam, buku, dan upacara bendera sudah lucut dari dirinya dan benak kekanakannya mendamba kehidupan yang lebih matur, dia mesti menjalani prosesi konyol itu lagi. Dia merutuk dalam kepalanya sendiri, ingin muntah ketika dia terpaksa memakai lembar karton berlapis plastik buat penanda identitasnya dan mendapat ocehan akibat kesalahan yang tidak dilakukannya.

Pada awalnya, bocah ini bersikeras untuk apatis. Tapi keras hatinya terus saja digempur bukti-bukti nyata bahwa masa orientasi yang dijalaninya kali ini bukanlah tradisi tak beresensi seperti yang dijalaninya tiga tahun lalu. Ada saja sosok-sosok yang sukses membuatnya tertegun di balik karton identitasnya, takjub sampai melupakan rasa kesal yang pernah lama bersarang di kepalanya, dan terkagum-kagum oleh orasi yang diteriakkan orang-orang ini di depan wajahnya.

Orasi, itu dia. Dari begitu banyak sosok yang membuatnya terkagum, ada satu orang yang paling bisa menggerakkan kaki-kaki apatisnya lewat segala orasi-orasian ini. Kalau seratus sembilan puluhan mahasiswa baru yang lain merasa takut terhadap orang ini, dia justru sebaliknya. Dia—akhirnya—merasa menemukan sebuah pilar, pegangan sekaligus jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya setiap kali matanya menangkap sosok-sosok berjaket almamater warna-warni berteriak bersama spanduk-spanduk dan pengeras suara mereka di jalanan.

Sejak saat itu, bocah ini memutuskan untuk turut berjalan bersama sang orator di atas jalanan gelap yang belakangan dikenalnya dengan nama ‘pergerakan’.

Pada akhirnya bukan hanya sang orator, yang kini menjadi kakak kesayangannya, yang mengajarkan dan menuntunnya selama menyusuri jalanan tadi. Beberapa sosok acak—baik temannya maupun orang-orang lain—pernah pula dia jadikan pegangan selama berjalan dalam gelap. Satu tahun pertama kehidupannya sebagai seorang mahasiswa dihabiskannya dengan melanggar tekad yang pernah diam-diam dia ucapkan dalam hati; pada akhirnya, buku dan belajar sempat bersaing dengan kebutuhan membangun kepeduliannya dalam dunia pergerakan. Turun ke jalan, berpanas-panas dalam segala rupa teriak dan pekik, menyaingi benderang matahari dengan warna jaket identitas yang dia kenakan, sampai menjadi sosok yang bahkan dia sendiri tak kenal ketika kaki-kaki apatisnya berganti gelar jadi kaki-kaki aktivis di atas mobil bak terbuka yang jadi altarnya dalam pembacaan sebuah puisi tentang betapa kekanakannya orang-orang di kursi pemerintahan.

Bocah ini merasa senang. Bangga. Terbuai.

Dahulu, ketika pertama kali melangkah di atas jalanan gelap itu, sebuah pertanyaan muncul dan tak henti menghantuinya. Dia pikir, pertanyaan itu sudah lenyap. Kenyataannya, semakin dia merasa takjub akan pencapaiannya, semakin pertanyaan itu menghantui kepalanya.

‘Apakah ini benar tempat saya?’

‘Apakah benar saya ditakdirkan buat berada di jalan ini?’

‘Bagaimana kalau ternyata saya cuma seorang bocah yang disilaukan suatu dunia baru, padahal sebenarnya saya tak mampu berjalan kalau bukan karena dinaungi bayang-bayang orang yang saya jadikan pilar pada dunia baru ini?’

Seorang kakak lainnya—yang juga merupakan pilar saya dalam dunia pergerakan—pernah berujar, “Saya pun masih sering mempertanyakan eksistensi saya di jalan ini. ‘Apakah benar ini jalan saya?’ ‘Apakah benar keputusan saya untuk berada di jalur ini?’ Tapi justru di sanalah—pada pertanyaan-pertanyaan itulah—poros kalian berada. Pada pertanyaan-pertanyaan itulah kalian bisa bertahan.”

Tapi, bocah ini kembali bertanya, bukankah akan jadi suatu kekeliruan jika pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya menjadi poros ini tak pernah terjawab?

Kemudian, tibalah sebuah kesempatan untuk sejenak membelok.

Beberapa bulan kemudian, bocah yang tak lagi ingin mengakui dirinya sebagai bocah ini membelok dari jalanan gelapnya. Dia menemukan sebuah jalan yang aneh; masih sama gelap seperti jalan sebelumnya, namun jalan ini diterangi kunang-kunang yang berkerlipan. Bocah ini melepas sejenak ranselnya yang berat oleh materi-materi orasi, pergerakan, kepemimpinan, konsistensi, manajemen kehidupan, dan segala tetek-bengek lainnya. Dia duduk sejenak untuk menikmati semilir angin yang agaknya pernah dia rasai sebelumnya, hanya saja dia lupa kapan pernah merasakan semilir angin semacam ini. Tiba-tiba saja dia merasa tertarik untuk menyusuri jalanan yang familier ini.

Dia mencoba peruntungan lewat selembar kertas yang ditulisinya dengan beberapa jumput kata, yang akhirnya asal diberinya judul ‘Puisi Ini Mati’. Seperti sebuah keajaiban yang terasa lucu baginya, dia menjadi orang pertama yang mendengar namanya disebutkan sebagai pemenang ajang seni penyejuk pikiran kecil-kecilan itu. Lantas dipikirnya kesenangannya berhenti sampai di situ. Ternyata dia salah.

Sejak enam-tujuh tahun terakhir, bocah ini selalu mendamba ledakan warna dalam hidupnya yang dirasa kelabu—dia tidak muram, hanya kelewat bosan. Kemudian, tanpa bisa diduga lantaran tak punya kemampuan dalam menduga-duga, dia dikenalkan pada sosok orator lain yang, lagi-lagi, menghadapkannya pada rasa takjub. Tentang bagaimana satu puisi, satu bait, satu baris, satu kata, bahkan satu huruf dapat memberi arti, dia diajarkan semua itu. Tentang bagaimana yang kecil dapat mewakili yang besar, yang besar dapat melingkupi apa-apa yang kecil, dia mempelajari itu dari orator satu ini—dia sempat tertawa karena tahu orang ini takkan mau disebut orator.

Dunia yang familier ini mempertemukannya dengan Trakl, seorang Austria yang berbagi cinta berselubung kelam jiwa lewat guratan-guratan penanya yang berakhir pada Grodek. Dia juga dipertemukan dengan kuda-kuda yang berlari dalam mantra—bahkan dipertemukan dengan pencipta kuda-kuda itu secara langsung! Dia dikenalkan pula pada Musim Gugur dan pemikiran baru yang tak pernah terlintas di benaknya bahwa sejentik kekaguman terhadap barang acak seperti mikroskop saja bisa ditumpahkannya lewat jumputan kekata layaknya ‘Puisi Ini Mati’. Dia merasa telah dikenalkan pada sebuah kegilaan! Sinting, tapi dia merasa hidup!

Bocah ini menikmati udara barunya, dan akhirnya menyadari bahwa udara ini tak benar-benar baru. Dia akhirnya mampu mengingat saat-saat pertama benak statisnya dikenalkan pada dunia absurd dan sinting ini. Kemudian, bocah ini tertegun, merenung dalam kegembiraan sekaligus kengerian yang tak tergambarkan. Masa-masa dia harus memperjuangkan ungu rumpunnya lewat sudah; dia belum menang, tapi persetan, yang penting dia senang. Dia tak harus mengerti karena mentornya—orator kedua—tadi berkata bahwa puisi bukan buat dimengerti, tapi dinikmati. Dan dia menikmati segala ketidakmengertiannya ini.

Dia mendapat pujian, tepukan tangan, lebih banyak pengakuan akan eksistensi, bahkan cinta dari seseorang yang lama tak bersua buatnya. Dan saat itulah, benak kekanakannya dilanda badai jumawa.

Ketika dia bersikeras mengempas badai jumawa itu dari dirinya, dia bercermin sendirian. Dia memaknai kembali puisi-puisi yang telah dibacanya selama tiga bulan terakhir. Kemudian, tanpa diduga, pertanyaan-pertanyaan mendatanginya.

‘Apakah ini benar tempat saya?’

‘Apakah benar saya ditakdirkan buat berada di jalan ini?’

‘Bagaimana kalau ternyata saya cuma seorang bocah yang disilaukan suatu dunia baru, padahal sebenarnya saya tak mampu berjalan kalau bukan karena dinaungi bayang-bayang orang yang saya jadikan pilar pada dunia baru ini?’

Bocah itu, kini dia merasa kaku seperti batu. Kepalanya terasa bakal copot dan mulutnya gatal hendak menyuarakan propaganda dan kembali pada jalan gelap bertajuk ‘pergerakan’, sedang badan dan tungkai serta hatinya seakan ditarik kuat-kuat oleh keindahan kata-kata yang telah lama memesona setiap jengkal tubuhnya—kecuali otaknya yang berada pada kepala.

Terbuai, ya. Saya yakin, bocah itu masih terbuai. Masalahnya, dia kebingungan akan satu hal: mana yang benar-benar membuatnya terbuai? Jalan pergerakan—yang baru dipelajarinya—yang membuatnya tetap berpijak pada bumi, atau keindahan perpuisian—yang juga baru dipelajarinya—yang membuatnya terbang ke angkasa? Bahkan kisah itu sendiri masih menggantung tak berarah.

Desember 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s