“Tiga Puluh Menit.”

“KAMU itu brengsek.” Kami sama-sama diam, tapi juga sama-sama bicara di dalam benak masing-masing. Ada jeda yang panjang—tidak biasanya—mewarnai celah antara pernyataanku barusan dengan jawaban yang bakal diutarakannya sesaat lagi. Dahinya mengernyit; bukan lantaran tudinganku barusan terkesan salah baginya, tapi hanya karena saat ini dia sedang berpikir. Selalu ada kernyitan di dahinya setiap kali dia […]