“Tiga Puluh Menit.”

9206448166_b45803a22e_b

“KAMU itu brengsek.”

Kami sama-sama diam, tapi juga sama-sama bicara di dalam benak masing-masing. Ada jeda yang panjang—tidak biasanya—mewarnai celah antara pernyataanku barusan dengan jawaban yang bakal diutarakannya sesaat lagi. Dahinya mengernyit; bukan lantaran tudinganku barusan terkesan salah baginya, tapi hanya karena saat ini dia sedang berpikir. Selalu ada kernyitan di dahinya setiap kali dia berpikir keras. Artinya, saat ini pun dia sedang berpikir keras. Berpikir begitu keras demi menemukan sebuah alasan di balik pernyataanku yang tiba-tiba.

“Kenapa kamu bilang saya brengsek?” tanyanya, pada akhirnya. Gestur tubuhnya masih saja pasif meskipun, tak bisa dipungkiri, matanya membulat antusias. Dia menginginkan jawaban pertanyaan itu lebih dari apa pun.

Aku harus diam selama beberapa detik, mencoba tetap berpijak pada tanah. Bertahun-tahun terjebak di dalam Bumi bersama orang ini, telah ratusan kali kuteriakkan kalimat ini di dalam hati: dia adalah manusia paling aneh yang pernah kukenal. Aku telah mengenal puluhan, ratusan orang selama sembilan belas tahun terakhir, dan tak satu pun dari mereka mau repot-repot berbicara dengan gaya yang kelewat formal sampai membuat lawan bicara mereka merasa seperti sedang berbicara dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia berjalan. Tapi orang ini….

Aneh tak melulu berarti buruk. Mungkin aku juga orang aneh; mungkin aku adalah satu-satunya orang yang pernah dikenalnya, yang jatuh hati pada gaya bicara formalnya itu. Tidak pernah ada ‘saya-saya’ atau ‘aku-aku’. Hanya ada ‘saya-aku’ karena kami berdua sama-sama berwatak keras—kami secara implisit memegang prinsip masing-masing. Orang yang tak terbiasa dengan kultur semacam ini pasti akan melucuti kami dengan pandangan-pandangan aneh. Masa bodoh. Aku sudah kelewat jatuh hati dengan segala keanehan yang menjembatani keterbalikan kami.

Kemudian, setelah kunyatakan diri telah siap, kuungkap alasanku. “Setahun lebih, kita sama sekali enggak pernah ketemu secara fisik. Kemudian—”

“Apa kualitas hubungan kita kamu nilai hanya dari kuantitas pertemuan fisik—”

“Dengar aku dulu.”

Bibirnya mengatup. “Kamu akan komplain lagi.”

Dasar robot. “Enggak kali ini.”

“Kenapa?”

“Ini juga alasan kenapa tadi kubilang kamu brengsek. Would you mind to keep quiet?

Kudengar dia mendengus. Selama ini dia memang sering mengungkapkan kejengkelan, rasa gemas, atau stres-stres kecilnya dengan dengusan-dengusan yang khas. Kali ini dia melakukan itu karena menyerah. “Oke,” desahnya.

“Kuulangi: setahun lebih terakhir, kita sama sekali enggak pernah ketemu secara fisik. Kemudian tiba-tiba kamu di sini. Kaku, masih kayak robot. Formal banget, masih kerasa seperti kamus berjalan. Masih sama jayus-nya dengan yang dulu.”

“Heh-heh.” Matanya menyipit malu.

“Kita ngobrol selama kurang lebih,” aku memandang jam dinding, “tiga puluh menit.”

Dia masih belum mendapatkan intinya. Alhasil, kernyitan pada dahinya bertambah. “Jadi?”

“Jadi, kubilang kamu brengsek karena… bisa-bisanya kamu ngeganti waktu setahun tadi cuma dengan tiga puluh menit.” Aku mulai terengah tanpa alasan yang jelas. “Tiga puluh menit kamu ada di sini, dan yang bikin aku sedih sekaligus jengkel, cuma segitu waktu yang kita punya. Kita berjauhan selama setahun, kemudian kamu sembuhkan itu dengan obrolan tiga puluh menit kita, kemudian sekarang kamu bakal pergi lagi.”

“Makanya kamu bilang saya brengsek.”

“Ya. Yang paling brengsek yang pernah aku kenal.”

Dia tak menjawab. Tidak dengan kata-kata melainkan dengan senyum simpul yang selalu menjadi ciri khasnya. Satu lagi hal yang kusukai darinya selain gaya bicaranya tadi. Namun, senyum simpul yang terbentuk di antara kedua pipi tirusnya tak pernah jadi pertanda baik. Setelah senyum simpul, hal berikutnya yang terjadi adalah… dia akan pergi lagi.

“Kamu bakal pergi lagi. Sekarang juga. Bahkan setelah semua yang aku bilang tadi.”

Dia mengangguk dalam, masih tersenyum simpul. “Seperti itulah.”

“Kalau begitu, semua yang aku jelasin sia-sia.”

“Tak ada satu pun yang sia-sia.” Senyum simpulnya menghilang, digantikan sesuatu yang jauh lebih baik: tatapan lembut dari matanya yang tajam, yang menatap langsung ke jiwa. “Kita bakal ketemu lagi.”

Hampir tak pernah ada pertanyaan. Hidup kami dipenuhi pernyataan. “Memang harusnya begitu.”

“Setidaknya sekarang saya ‘ngerti kenapa tadi saya dibilang brengsek.” Dia tertawa, nyaris tanpa suara. “Bukan makna harfiah, ya.”

“Harfiah. Literally brengsek.”

No,” sanggahnya.

“Terserahlah.”

Kedipan selanjutnya, dia lenyap. Tanpa bekas. Seperti hantu yang berbicara kepadamu kemudian tiba-tiba menghilang begitu saja. Awalnya memang terasa sangat sulit, menyiksa hingga ke tulang-tulang, mencengkeram saraf-saraf dan membuat badan ini serasa lumpuh di luar sekaligus di dalam. Kini setelah kedewasaan akhirnya menjemput kami, rasa sakit itu kian tersamarkan. Masih terasa jelas, hanya kali ini tersamarkan.

Air mata tak sempat mengalir, atau bahkan sekadar jatuh. Rasa kesal dan pedih tak sempat melahirkan benci, karena pada detik selanjutnya, mataku membelalak di depan gelap.

Sesuatu bergerak-gerak di atas pelipisku. Menyisir dahi, setengah melayang menyusuri alis, hingga berakhir di pangkal telinga bersama anak-anak rambut yang berkerumun liar. Tampaknya, aku masih mengenali semua ini.

“Aku ketiduran,” gumamku, nyaris kepada udara. Suara yang keluar berasal dari sela-sela bibirku yang masih mengatup rapat.

Gerakan pada pelipisku berhenti. Anak-anak rambutku mengurai kembali saat kudengar suaranya menggema pada membran timpani. “Bagaimana tidurnya?”

Aku tak ingin menjawab. Sebagai gantinya, kubenamkan kepalaku pada rengkuh lengannya. “Berapa lama aku tidur?” tanyaku.

Kurasakan rengkuhan itu berubah menjadi dekapan. Dekapan yang menyedihkan, tapi juga melegakan. Detik-detik berlalu, dan kini warna gelap pada kaos polo yang dikenakannya seakan menguar bersama udara… dan menjadikan duniaku gelap seutuhnya.

“Tiga puluh menit,” bisiknya. Sebuah jawaban yang terdengar seperti senandung memilukan buatku.

2 Februari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s