Okuler: Sebuah Perjalanan Keliling Dunia

9206448166_b45803a22e_b

SAYA baru saja melintasi benua Eropa. Tempat ini jauh lebih mengagumkan dari yang bisa saya bayangkan. Pernahkah kamu melihat langit begitu hijau, awan selembut kabut, dan sungai yang mengalir sepanjang Venice beriak dalam warnanya yang kusam dengan begitu tenang? Perjalanan menyusuri kota ikonik Italia ini bahkan tampak bukan apa-apa begitu ekor mata saya menangkap panorama Menara Pisa yang sesungguhnya; Pisa tidaklah miring, ia tegak seperti seorang pendekar yang tangguh, namun badannya tetap memanjang layu nan lembut dengan kepala sewarna gading menghias pucuknya.

Perjalanan saya tak berhenti sampai di situ. Bukan benua Eropa namanya kalau tak melipir ke Prancis. Dapatkah kamu melihat puncak menara Eiffel di seberang sana? Ia tampak lebih cantik dibanding gambar ilustrasi pada sampul kalender tua di atas meja belajar saya. Ini karena Eiffel yang anggun tak sebatas onggokan besi berpucuk karat; Demi Tuhan, menara Eiffel begitu cantik dengan cabang-cabangnya yang terus tumbuh membelah langit Paris. Dan kalau-kalau benakmu mulai jengah, kunjungilah Arc de Triomphe; selama ini saya pikir tempat itu adalah gapura lengkung persegi dengan ukiran menghidupi sisi-sisinya. Tetapi yang saya lihat di sini, Arc de Triomphe berbentuk lengkung setengah lingkaran sempurna—dan warnanya merah! Apakah film-film yang menyertakan monumen ini di dalamnya telah berbohong kepada saya?

Peduli amat, sekarang saya sedang menikmati semilir angin sejuk yang menerpa Mesir berikut Sphinx. Kenapa? Kamu pikir saya berbohong karena saya bilang Mesir itu sejuk? Coba tilik kembali, rasai makna dari tiap-tiap atom oksigen pada udara Mesir yang menyentuh saraf-saraf sensorismu—mereka ingin dimengerti. Mesir dan Sphinx begitu sejuk dan lembab—apa? Kamu pikir saya gila?—belum lagi kalau kamu mendaki puncak Piramid Giza, kamu bakal menemukan lebih banyak kesejukan di sana. Dan warna kuning, tentu saja.

Sekarang, biarkan saja menjelajah Ukraina, negara yang paling ingin saya kunjungi sejak tiga tahun terakhir. Pada tanggal 28 April 1986, sebuah kota bernama Pripyat terpaksa diasingkan pasca meledaknya sebuah pembangkit nuklir di Chernobyl, yang hanya berjarak beberapa kilometer dari pusat Pripyat. Sekarang, kabarnya Pripyat nyaris mirip kota hantu, dan baru bakal bisa ditempati setelah 22.000 tahun lamanya! Tapi, yang saya lihat di sini berbeda; Pripyat ramai oleh hiruk pikuk manusia. Apakah sejarah telah salah mengajari saya?

Perjalanan keliling dunia saya tak bakal lengkap kalau belum mengunjungi sang negeri matahari, Jepang. Begitu saya tiba, tempat ini dipenuhi kelopak bunga sakura yang berguguran. Menarik, tetapi yang lebih membuat saya terkejut adalah warna sang sakura. Bukan merah muda, melainkan merah marun luntur yang menyambut saya. Guguran kelopak bunga sakura ini tampak indah, namun juga membuat saya gila. Ini mengingatkan saya pada sebuah mitos kuno di Jepang, bahwa seorang perempuan dilarang berdiri di bawah guguran bunga sakura, karena itu bakal membuatnya jadi gila. Sakura-sakura yang saya lihat di layar kaca selama ini, apakah mereka palsu? Mungkinkah saya telah tertipu?

Kalau begitu, biar saya pulang ke rumah. Di tempat yang kabarnya indah nan kaya raya inilah saya lama berdiam diri. Karena katanya, terlalu banyak berkelana bisa membuat diri lupa negeri sendiri. Karena katanya, buat apa mengagumi indahnya hijau rumput tetangga kalau belum bisa mensyukuri kuningnya rumput pekarangan sendiri? Maka saya kembali ke kampung halaman, mengharap diri disambut warna-warni negeri yang gemilang. Saya kembali ke rumah, hanya untuk mendapati rumah saya telah kosong dijarah orang.

Ke mana rumah saya?

“Udahan, eh. Makan, yuk.”

Kedua mata saya mengerjap tak keruan, tampaknya terkejut karena perubahan intensitas cahaya yang dadakan. Di depan saya, lingkar jendela pesawat yang selama ini membawa saya keliling dunia sudah dimatikan lampunya. Diam-diam saya kecewa. “Udah selesai?”

“Dari tadi,” kata mereka. “Yuk, ah. Ambis banget deh kalau udah ketemu mikroskop.”

Anehnya, di balik rasa kecewa itu, saya masih bisa mengulum senyum. Kegilaan saya terhadap mikroskop tampaknya sudah mendarah daging di tempat ini dan, lama-kelamaan, semua celotehan mereka tentang itu menjadi pujian tersendiri buat saya. Dan tawa itu muncul begitu saja.

Kami, pada akhirnya, berbenah. Sebelum keluar dari ruangan praktikum, saya kembali memastikan keenam preparat jadi di tangan saya aman di rumah asalnya. Sporangia dari Rhizopus oligosporus yang membawa saya ke Pisa, Penicillium notatum yang lebih cantik dari menara Eiffel, sampel eritrosit sickle cell anemia yang melengkung sempurna, biakan Salmonella yang lendirnya menyejukkan Mesir, Heliozoa yang melukiskan ledakan Chernobyl di dalamnya, Rhoeo discolor yang lebih merah dari sakura, dan tak ketinggalan… kaca preparat kosong yang begitu terisi nanti, akan membawa saya ke belahan Bumi lainnya. Sebelum menutup kotak preparat, saya melayangkan satu ucapan sampai jumpa kepada versi jagat raya saya.

Sampai jumpa, Dunia. Bertemu lagi lain waktu.

Tiap-tiap dari kita membawa satu versi jagat raya. Tinggal bagaimana cara kita memunculkan dia di antara tujuh miliar versi lainnya. – LHS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s