Pulang

9206448166_b45803a22e_b

Ada masa-masa di mana saya merasa kosong.

Lebih kosong dari tempat sampah di pinggir-pinggir jalan—usang bukan karena menampung begitu banyak sampah dan kotoran demi kenyamanan dunia, melainkan karena diabaikan dan kotor kena hujan, cipratan air kubangan, dan kencing anjing.

Saya mencoba hampir segalanya.

Melarutkan diri di dalam dunia perkuliahan, mengerjakan tugas-tugas sialan, bercengkerama dan adu kebahagiaan dengan kawan-kawan, latihan dan latihan dengan alibi mau tampil di depan kamu suatu hari nanti, bahkan menulis puisi… yang isinya tak bakal jauh dari kita. Bertujuh—yang kian serasa bertiga.

Saya dibilang orang sibuk. Mereka bilang saya ini sibuk. Ya, orang-orang yang jelas tidak mengenal saya, hampir sama sekali. Mereka bilang kepada saya agar tidak terlalu sibuk, agar menjaga kesehatan, agar tidak memaksakan keadaan diri, agar tidur dan makan yang cukup. Agar hidup.

Tetapi bukan di sana hidup saya. Semua kesibukan ini bukan apa-apa, bahkan tidak sedikit pun cukup buat mengalihkan perhatian saya darimu.

Saya harus bagaimana lagi? Saya harus tumbang berapa kali lagi gara-gara memenuhi tuntutan dari kesibukan yang saya ambil atas dasar mengalihkan diri dari keberadaanmu…

…yang semakin pudar terasa?

Saya berkata bahwa saya sedang merasa kosong. Lalu dia bertanya, kenapa. Saya jawab, bukan apa-apa, entahlah, tidak tahu, tidak mengerti. Jawabannya bukan ada pada saya, tetapi ada bersamamu. Bersama keberadaanmu yang mulai pudar.

Sulit rasanya. Lebih sulit dari mereka-mereka yang memutuskan buat menyerah karena konflik. Lebih sulit karena kita baik-baik saja, tetapi di sisi satunya, saya merasa tidak. Paling tidak, kalau di sisi sana kamu merasa segalanya baik-baik saja, di sini saya merasa tidak baik.

Saya sedang tidak baik-baik saja.

Saya…

aku—aku harus mengaku bahwa aku tidak baik-baik saja. Dinding yang kubangun selama puluhan ribu jam ini sudah nyaris runtuh, kalau kamu mau tahu. Entah berapa kali lagi aku harus membohongi diri sendiri bahwa semua ini sama sekali di luar frasa ‘baik-baik saja’. Aku sudah hampir kehilangan harapan, bahkan buat sekadar berharap. Aku sudah hampir kehilangan harapan buat menunggu. Karena aku seperti sedang menunggu sesuatu yang fana, yang seiring waktu berjalan akan kian menghilang.

Keberadaanmu tidak lagi terasa di sini, tidak juga di sana, tidak di mana-mana. Entah sejak kapan pertemuan dua jemari ini jadi terasa getir. Kembalimu tidak terasa seperti suatu kepulangan. Aku menggenggam asap yang cuma lewat membelai sela-sela jemariku tanpa bakal mengisinya. Apa-apa yang kita lalui akhirnya terasa seperti mimpi-mimpi yang semakin hari semakin jarang menghiburku cuma-cuma.

Bahkan ketika salah satu dari mimpi-mimpi itu datang lagi, yang mendekap raga ini hanyalah seberkas siluet yang sensasi riilnya mulai sirna.

Entah sejak kapan, aku jadi sengaja tidur larut malam supaya badan ini kelewat lelah untuk bermimpi. Usahaku berhasil; aku tidur nyenyak, tanpa sedikit pun bermimpi. Hanya gelap, dan kosong.

Gelap dan kosong. Keesokan harinya, aku bakal terbangun lagi dalam keadaan cerah, dan kosong. Aku bakal menjalani hari-hari, kurang lebih dua belas jam di dunia luar, dalam keadaan sibuk dan kosong. Kemudian aku pulang; duduk di antara kursi panjang ular besi, memerhatikan dunia kecilku dalam keadaan dingin dan kosong. Kemudian aku bakal tertidur kembali, dalam keadaan gelap dan kosong. Begitu setiap hari.

Tetapi tak ada sedikit pun cerita. Tidak ada yang bertanya kepadaku.

Tidak, bukan begitu. Orang yang seharusnya bertanya tidak ada bersamaku.

Tidak ada buatku. Tidak ada untukku.

Aku terlalu takut buat meminta, terlebih menuntut seperti yang kerapkali kulakukan dahulu. Kedewasaan berbalut apatisme telah menghajarku tepat di wajah, mendoktrinku supaya aku tetap duduk diam dan tak menyia-nyiakan waktu buat kepulan asap yang kucari-cari untuk kudekap. Aku takut, kalau aku meminta akan ada yang menentangnya. Bagaimana aku bisa begitu jahat menuntut sosok lain, padahal ada sosok yang lebih ringkih yang membutuhkanku?

Walaupun di sisi lain, kamu juga tidak menyadari seberapa ringkihnya aku.

Terkadang, kala benak dan jiwaku sudah tak tahan menanggung segala penantian ini, aku menyerah akhirnya. Aku mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberadaanmu pada perjumpaan yang lalu, kemudian mencoba memanggilmu… menahan pedih dari amarah yang muncul dari sang ringkih yang juga sangat kucintai. Kemudian, kamu datang…

…tetapi hanya dalam barisan kata.

Selama ini kupikir semua itu cukup. Ternyata tidak. Tidak sama sekali. Kamu seperti menabur gula di atas luka menganga; manisnya mengalihkan, namun pedihnya segera menyusul kemudian.

Bukan karena aku tidak mampu menunggu. Aku bakal menunggu untuk berapa pun waktu yang diminta oleh takdir. Namun, bagaimana aku bisa bertahan menunggu jika yang kutunggu di sana ternyata mulai runtuh eksistensinya?

Aku merindukan masa kemeja hitam dan topi kesayangan… yang kutahu, tak bakal kembali… dan tak bakal pula kuminta mereka buat kembali. Aku merindukan masa di mana tak perlu bagiku merasai keberadaan duniawimu karena jiwamu telah cukup kuat berpegang pada poros Bumi.

Aku merindukan masa di mana kamu terasa begitu nyata.

Sekarang, segalanya memudar. Bahkan buat sekadar menuntut janjimu tempo hari untuk tetap ada dan nyata, aku tak berani. Kurasa janji itu pun tak cukup nyata buatmu. Jadi, biarlah. Mungkin, salahku juga yang tidak cukup pantas buat menjadi bahan bakar eksistensimu.

Lagipula, ada orang lain di sana yang lebih berhak atas kehidupan ini. Pada akhirnya, kamu hanyalah pengganggu… dan aku pun tak berbeda denganmu. Aku juga pengganggu. Jadi, biarlah sekarang dia menjalani kehidupannya.

Jangan kita rampas lagi.

Dan, kalau memang saya tak lagi pantas—atau mampu, atau apalah—menjadi dasar bertahan atas keberadaanmu…

…silakan lakukan segalanya sesuka hatimu.

Sekarang kamu tahu mengapa saya ingin menjadi seorang penulis.

Keberadaanmu akhirnya bakal nyata dan abadi di dalam buku-buku saya nantinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s