Kaki Lentera

maxresdefaul

Baru sekali ini
malam merupa jagatraya purna
dan bintikbintik kecil pada mata yang berkilat
lebih benderang dari bintang yang membakar.

Dan baru sekali ini
benak kami diliputi asa yang tiada henti
meraung atas jiwajiwa lugu yang
membawa kami lebih tinggi dari langit kelam.

Selamat datang, Pejuang.
Kalianlah yang berkuasa atas
kakikaki yang memijak ranah ungu
dan di ujung jemari itu harapan bernaung
lebih kuat dari sekujur nadi.

Ingatlah betapa kita pernah dipertemui,
berbatas meja kayu mungil dan
potongan kertas lusuh sebab tanganmu
kelewat girang ketika kita berpandangan.

Kami melihat wajahwajah yang
lebih kemilau dari ujung Bimasakti,
pundakpundak yang lebih tangguh
dari pusat Bumi.

Dan waktu adalah bumbu dari segala
perjumpaan, titik nadir yang jadi
pijakan para pejuang.

Tanah ini jadi saksi bahwa
Pejuang akan tenggelam pada kesalahan
namun hanya seorang sahajalah
yang mampu berdiri lagi di atas kakikaki berluka.

Tanah ini tempat kami merongrong batalion Pejuang
yang bicara akan perihal napas bangsa
lewat berjuta propaganda, dan kobar semangat
yang tak padam digerus angan.

Selamat datang, Kawan.
Lihat, lihat cahya lentera beterbangan
sebuah dan demi sebuah ia melayang
semisal seorang dan demi seorang kalian
kala itu datang berangkulan.

Kita ingat betapa antara kita
pernah bermusuhan,
betapa perbincangan di antara kita hanya perihal
siapa benar dan siapa salah,
siapa hitam dan siapa putih.

Betapa semua urat pernah berkerut
dan mata merah saling memicing,
betapa airmata pernah menyembul
dan jiwajiwa meraung berontak.

Dan kita ingat bagaimana airmata berontak
berganti jadi airmata haru sebab
tangantangan kuat itu
telah membuat simpul ikatan baru
di antara kita yang pernah seteru.

Selamat datang, Adikadik kami.
Pada hari kesembilanpuluh sembilan
kita bicara tentang estafet yang takkan padam.

Maka di sinilah kami, dan kalian–yang kini jadi kita
berpadu pada hari keseratus empatbelas
di mana kita berjanji bahwa kita
bakal terus menghitung
bakal terus berangkul
akan terus percaya.

Selamat datang, Saudarasaudara kami.
Semisal lentera yang mewarna langit malam ini,
terbanglah, berjuanglah
pada garis batas pernyataan
pada garis batas impian.

Seperti kami percaya buat melepas semua lentera menuju malam,
kami percaya buat melepas segala kesah yang mengikat
dan memandang para Pejuang berdiri
kini–pada kakikakinya sendiri.

Teruntuk adik-adikku yang ber-jakun dan tak ber-jakun, yang duduk di kursi auditorium dan yang berdiri di panggung, yang menangis dan tak menangis, yang malam ini tersenyum lebih lebar dari biasanya.
(2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s