Apakah egois itu?

sky

Tahun telah berganti, dan hari-hari baru telah siap menyambut kita. Perlahan—tetapi pasti—kita bakal dipertemukan dengan akhir dari semua ini juga, pada akhirnya.

Aku merasa telah begitu terlambat dalam mengantisipasi euforia tahun baru, bahkan kita telah sampai pada hari keduapuluhsatu bulan Januari, di mana hujan masih setia mengguyur Bumi dan sedikit-banyak berbagi keluh-kesahnya tentang tinggal di langit. Di tempat yang banyak diimpikan manusia, termasuk kita. Jauh lebih tinggi dari awan, bulan sedang bersiap-siap untuk kembali memamerkan pendar jingga kebanggaannya saat ia purnama nanti. Malam ini ketika aku berjalan tadi, aku melihat bulan begitu berani bahkan sekalipun kumpulan awan gelap berusaha menampik sinarnya. Bagaimanapun ia tetap lantang bersinar. Toh, ini malamku, barangkali begitu katanya kalau saja ia bisa bicara.

Ah, seandainya aku bisa bersinar seperti bulan. Kita selalu mengandai-andai perihal Langit dan Bumi, Matahari dan Bulan… terkadang, Awan-Awan sebagai tritagonis. Sesekali Ksatria juga ikut serta. Kadang-kadang Ombak. Pokoknya, semua fenomena alam adalah bagian dari cerita-cerita yang kita tulis secara fana. Bahkan setelah selama ini, aku masih tak mengerti bagian mana dari Bulan yang membuatmu begitu terpesona. Padahal Bulan adalah penipu, bukan? Sinarnya adalah milik Matahari.

Tetapi engkau tetap memujanya. Makanya, aku ingin menjadi Bulan dan terus seperti itu. Lalu bakal kubiarkan engkau tetap jadi Ksatria dan Matahari tetap hidup bersamaku. Selama-lamanya.

Namun, seberapa lamakah selama-lamanya itu? Sepuluh tahun? Dua puluh, tiga puluh, seratus, seribu, bahkan sepuluh ribu takkan pernah cukup untuk kita, sebab kita egois karena meminta lagi dan lagi kepada waktu. Dahulu, aku sudah siap untuk melepaskan segalanya, memotong semua tali kebahagiaan dan memendam semua euforia ini di dalam telapak tanganku sendiri. Tetapi nyatanya tidak ada satupun dari kita yang sanggup. Kemudian kita lantas mengulur, mengulur, dan mengulur hingga kini. Kita merasa pedih dan menderita, mempertanyakan keadilan dan kehendak nasib, menahan setiap titik air mata, membohongi diri sendiri tentang masa depan.

Di titik ini, kita terlalu takut untuk bicara perihal masa depan. Kita bersembunyi di dalam sebuah rumah kecil yang ringkih. Kita menghindar dan hidup untuk masa kini, tanpa mengakui bahwa perlahan kita akan sampai juga pada titik itu. Kita hidup dalam keserakahan dan keegoisan, kepentingan diri kita sendiri tanpa melihat bahwa meski dunia dapat kita hentikan, waktu akan tetap berjalan.

Di sudut terdalam benakku, sesungguhnya aku takut akan masa depan.

Kita egois, bukan? Tetapi sungguh, apakah makna egois itu sendiri?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s