Air Mata: Komoditas Picisan [1]

14df897cc5d2e62344ea465734ee8673

[Bagian 1]

Belakangan, hal-hal buruk menimpa saya. Yeah, everyone doesI know, I’m not a special snowflake. Tapi, saya nggak akan bilang ini buruk kalau nggak betul-betul buruk, kalau masih bisa saya tepis dengan logika. Kalau begitu, saya nggak akan perlu repot-repot nangis.

You didn’t misheard it. I cried, alot.

Selama beberapa bulan terakhir ini, ada dua hal yang bikin saya nangis lumayan sesunggukan (btw, ‘sesunggukan’ nggak ada di KBBI, yang betul apa ya?).

Yang pertama, waktu saya ketendang dari kelompok yang mau magang di Rumah Sakit X. Cerita lama, nggak etis dibahas lagi di sini—tapi ini blog pribadi gue yha jadi dengan demikian….

Well, pokoknya begitu. Singkat cerita, ada beberapa hal which irritates me to the deepest of my heart (ouch!) sampai bikin nggak tahan terus nangis sesunggukan. Nangisnya karena kesal, nyeredet hate, gon to the dok, dong to the kol, kecewa, terkhianati, sehingga muncullah itu emosi-emosi labil ala anak SMA yang seharusnya sudah terkubur sejak empat tahun lalu tapi kok tiba-tiba muncul lagi. I cried all day long, dengan rincian:

  • 30% karena mikirin biaya magang di Rumah Sakit Y yang lebih mahal Rp400.000,00 dari Rumah Sakit X;
  • 60% bertanya-tanya kenapa saya dikhianati;
  • 10%-nya rencana balas dendam(?)—ah, nggak kok.

Yang kedua, baru banget. Saya apply beasiswa, tapi nggak dapat. Entah kenapa feeling saya bilang, ini ada hubungannya dengan proses wawancara yang nggak kondusif dan maupun profesional. Ya iyalah; kalau wawancara pakai kata-kata, “Oh, berarti selama ini elo nggak ngapa-ngapain, dong?” bisa dibilang pro-fe-si-o-nal, gitu? Nggak. Sudah begitu, yang mulia pewawancara bisa-bisanya mengakhiri wawancara profesional dan komprehensifnya dengan pernyataan: “…kalau elo nggak dapet (beasiswa ini), semoga gue nggak nge-dzalimi elo.”

From the moment you spit those words, I was already planning to slit your throat, you dick.

And then, I cried. I call a best friend of mine and she woke me up when she unwittingly said, “Masih nangis?”

I said, “Yeah, I am,” dengan dalam sepersekian detik selanjutnya merenungi diri sendiri sebelum berkesimpulan, “Tapi gue kalau nangis pasti dari hati.”

[Berlanjut ke Bagian 2]

Advertisements

One thought on “Air Mata: Komoditas Picisan [1]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s