Proses #1: Mereka Bilang, Saya Bakal Push-up

1113184-bigthumbnail

Dilihat-lihat, dipikir ulang, kasihan juga blog ini sebab ternyata sudah hampir tujuh bulan tidak saya isi dengan tulisan atau puisi atau apalah. URL blog ini cuma mejeng di Instagram atau Ask.fm tanpa pernah saya buka-buka lagi.

Malam ini, ketika saya sedang buka-buka Instagram lewat komputer, tiba-tiba saja saya kepingin mengisi blog ini lagi.

Dalam kurun waktu tujuh bulan, banyak hal saya lewati. Beberapa begitu menarik dan berkesan sampai agak sedih juga karena bikin kangen, misalnya magang rumah sakit.

Oh ya, magang rumah sakit yang diawali dengan adegan berurai airmata itu berakhir bahagia, walaupun pada saat saya mengetik ini, laporan magang RS belum juga diserahkan ke pembimbing karena terbentur jadwal.

Aneh rasanya, saya dan tiga teman lainnya yang notabene ‘orang buangan’ dan dipaksa kerja sama akhirnya bisa klop juga … bahkan juga dengan 25 orang teman magang lain yang berasal dari Poltekkes Padang, Poltekkes Bengkulu, Poltekkes Pontianak, dan IPB. Dulu ketika salah seorang kakak tingkat berpesan, “Nanti temenan sama anak magang dari tempat lain, ya. Siapa tahu printer kalian gak bisa, ‘kan bisa minta tolong mereka,” saya langsung skeptis bisa benar-benar punya teman dari para mahasiswa magang ini.

Akan tetapi melalui perantara ruangan sempit, berbagi meja, berbagi printertumpengan, kewajiban mengerjakan NCP pasien, hingga pengalaman menginap bersama sampai ada yang kesurupan, pada akhirnya kami jadi dekat. Sedekat itu, sampai rasanya kalau mereka nggak ikut menginap saya bakal takut (dan iseng) sendirian.

Selain bertemu dengan teman-teman magang, bertemu dengan para pasien juga jadi pengalaman menarik. Beberapa pasien bikin saya baper dan jadi agak nggak profesional; yang harusnya wawancara malah jadi ngobrol kasual, yang harusnya nggak dikasih telur asin malah saya kasih telur asin sampai tekanan darahnya naik, yang awalnya takut tapi akhirnya wondering juga setelah beliau-beliau pulang, sampai salah satu pasien anak yang minggu ini saya janjikan mau kasih gambar Hello Kitty terus minggu depannya dengar kabarnya sudah meninggal.

Belum lagi orang-orang baik hati dan sederhana yang saya temui di instalasi gizi, yang setiap hari cuma pakai kaus oblong dan celemek sebab seragamnya mesti ditanggalkan supaya nggak kena ciprat semur telur dan tahu keri. Orang-orang ini yang setiap harinya menyapa saya, mengingatkan saya bahwa bahagia itu bukan cuma perihal gaji cukup apalagi lebih, ada yang tak kalah penting: mencintai apa yang kita kerjakan dan berdedikasi di dalamnya.

Mereka bilang RS tempat saya magang itu ketat karena basisnya militer, kalau telat nanti disuruh push-up, belum lagi ada apel pagi, dan katanya nggak dapat ilmu apa-apa … oh, shut up, bitches. I already got my internship certificate from that hospital and I’m proud of it. You people (in my campus a.k.a. my beloved friends and juniors) should stop saying nonsense things about the hospital I was interning in because you guys know literally nothing about it. I didn’t do such things as push-ups, apel pagi, blah blah blah. *flies away*

Ya pokoknya begitu. Mereka yang paling piawai menilai adalah mereka yang tidak terlibat di dalam hal tersebut dan cuma bisa melihat secara superfisial saja. I left my old self who cried aloud and disappointed.

The moment I left the hospital, I knew I had moved on.

E ada apa ini, I’m being too optimistic I feel strange, lol.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s