Memahami Luka

Kemarin sore, kamu terluka.

Kamu sedang berusaha membuka bungkus plastik sumpit, menarik bungkus plastik itu ke bawah seperti saat kamu sedang mengeluarkan sedotan dari bungkusan plastiknya. Kamu menyusurinya perlahan, dan lamat-lamat merasakan perih di ibu jarimu. Kamu yang terbiasa dengan rasa sakit tidak mengindahkan sinyal-sinyal peringatan dari otakmu dan terus saja menarik bungkus plastik itu ke bawah, hingga pada suatu titik, kamu menyadari bahwa rasa sakitnya sudah tidak tertahankan.

Secara refleks, kamu menarik ibu jarimu, mengaduh. Di ibu jarimu, ada segaris luka sayatan, persis seperti luka sayatan yang dihasilkan menggunakan silet. Tak lama, darah mulai muncul dari luka tersebut dan kamu pun menyadari bahwa kamu saat itu… terluka.

Normalnya, ketika merasakan rangsangan sakit, seorang manusia akan secara refleks menghindari rasa sakit tersebut. Pada kondisi ini, mekanisme tersebut terjadi dengan cepat, saking cepatnya hingga tidak melibatkan otak. Sistem saraf periferal yang berada di ruas-ruas tulang belakangmu itulah yang bertanggungjawab menghindarkanmu dari potensi bahaya, termasuk luka.

Tetapi, kamu berpikir, mengapa kamu justru tidak langsung menarik diri begitu sensasi perih tadi muncul dari ibu jarimu? Mengapa kamu mengabaikan peringatan yang ada?

Kamu teringat suatu hari dalam masa kecilmu, saat kamu terjatuh dan kakimu terluka. Ada banyak darah, dan itulah pertama kalinya kamu melihat darah sebanyak itu. Seisi rumah panik dan mati-matian berusaha meyakinkanmu bahwa semuanya baik-baik saja. Kamu menangis, bukan karena sakit akibat luka di kakimu; bukan karena kamu ketakutan melihat darah mengalir di kakimu; kamu menangis karena melihat ibu dan kakekmu panik. Sedangkan luka di kakimu hanyalah sebuah hal baru dalam hidupmu.

Ketika SD, seorang teman mengajakmu bermain masak-masakan. Kalian begitu bersemangat membeli berbungkus-bungkus sosis dan nugget untuk digoreng. Kamu berinisiatif membuka bungkusan salah satu sosis menggunakan pisau. Kemudian, semuanya terjadi dengan cepat; pisau itu menyayat jarimu, menghasilkan luka yang darahnya mengotori jari-jarimu. Tetapi lagi-lagi, kamu tidak bermasalah dengan rasa sakitnya. Malahan, kamu hampir tidak merasakan sakit.

Tanpa kamu sadari, kamu telah terbiasa dengan rasa sakit. Kamu tidak takut akan sayatan benda tajam, kulit yang melepuh ketika lenganmu tak sengaja menyentuh bagian setrika yang panas, kulit yang mengelupas, kuku yang kamu potong terlalu dalam, telapak tangan yang terluka ketika kamu tersandung lalu terjatuh, terkena air panas, terantuk sesuatu hingga membuatmu memar, sundutan rokok yang tanpa sengaja mengenaimu, cakaran, pukulan, tamparan, tarikan, jambakan, dan hal-hal lain semacam itu.

Bagimu, semua luka itu sifatnya fana. Kamu hanya merasakan sakit sementara, lalu semua akan hilang seiring waktu berjalan. Bekas sayatan akan menutup, darah akan mengering, lebam keunguan akan menguning lalu hilang, dan kamu akan menjadi sosok yang sama lagi.

Hingga pada suatu hari, kamu mengenal apa yang orang-orang sebut sebagai sakit hati dan kekecewaan.

Kamu sedang senang-senangnya menggambar saat itu. Kamu menggambar ini dan itu. Menyadari bahwa gambar-gambarmu belumlah bagus, kamu menyimpannya untukmu sendiri. Definisi bahagia bagimu saat itu adalah menggambar, dan sesekali mendapatkan pujian ketika seseorang secara tidak sengaja memergokimu menggambar sesuatu. Pipimu memerah, senyummu merekah, dan kamu berkata, “Terimakasih.” Kamu begitu bahagia, sebelum akhirnya seseorang mengatakan bahwa gambarmu jelek, kakinya seperti kambing.

Kamu merasakan sesuatu yang aneh, gejolak yang asing yang tidak ada di dalam database otakmu. Kamu tidak memahami perasaan macam apa ini, dan kamu menyimpannya untuk dibawa pulang. Tahun-tahun berlalu, dan kamu menyadari bahwa perasaan ini sama sensasinya seperti ketika kamu sedang… cemburu.

Oh, tentu, kamu sedang beranjak remaja. Kamu saat itu mudah suka kepada orang-orang yang membuatmu tertarik karena keunikannya. Kamu menyukai teman sekelasmu yang memakai backpack biru gelap itu; kamu menyukai teman kelas sebelah yang baru saja pacaran itu; kamu menyukai anak yang senang bermain game itu; kamu menyukai anak yang membuatmu memahami apa leukemia itu; kamu menyukai kakak kelas berkulit gelap yang pembawaannya amat tenang itu; kamu menyukai kakak yang senang berpuisi itu; dan lain-lain.

Sekitar tahun 2008 dahulu ketika kamu sedang di kelas 8 SMP, bisa dibilang bahwa itulah pertama kalinya kamu benar-benar menyukai seseorang–perasaan suka yang amat berbeda, yang membuatmu menjadi amat rajin memantau kegiatannya hari itu dan apa-apa saja yang bakal ia lakukan. Kamu amat bahagia menjadi satu-satunya teman mengobrol anak ini, dan kamu mati-matian berusaha menjadi anak baik. Kemudian setahun berlalu dan keadaan mulai berubah. Kamu mulai akrab dengan perasaan kecewa, cemburu, sedih, dan iri. Kamu mulai sering berhadapan dengan perasaan-perasaan destruktif yang mengganjal baik di hati maupun kepalamu.

Masa remajamu belum lagi lewat, dan kamu mulai sering bersinggungan dengan orang-orang di rumah. Hingga SMA, kamu masih membutuhkan usaha ekstra untuk menanggulangi rasa sakit yang kerap bermunculan di dalam dirimu. Kamu kesal terhadap keadaanmu; kamu merasa berseberangan dengan temanmu; kamu marah karena ketidakmampuanmu; dan kamu membenci orang-orang yang menyebabkan masalah dalam hidupmu.

Mudah bagimu untuk menanggulangi rasa sakit akibat luka… fisik. Akan tetapi, kamu perlu waktu lebih banyak untuk menghadapi rasa sakit yang tidak tampak. Kamu mencoba menangis, banyak menangis, tetapi tak ada kepuasan yang kamu dapatkan dari sana. Kamu mencoba membiarkan semua perasaan yang mengganggu itu hilang seiring waktu berjalan, tetapi mereka tidak menutup selayaknya luka sayatan. Kamu pun kebingungan.

Kamu tidak ingat kapan persisnya dan bagaimana kamu memulainya. Yang jelas, pada masa-masa itu, satu-satunya hal yang bisa membuatmu merasa normal dan tenang adalah dengan melukai ujung-ujung jarimu dan membuatnya berdarah. Dengan berdarah, kamu mendapatkan efek relaksasi yang sama seperti jika seseorang menangis. Dan tanpa menyadarinya, kamu hidup dengan itu sampai sekarang.

Luka sayatan di ibu jarimu saat ini masih basah. Kemarin sore, kamu mengutuki sumpit yang membuatmu terluka itu. Sumpit plastik murahan, tentu saja diproduksi massal dan dipotong seadanya sehingga masih menyisakan bagian-bagian yang tajam. Siapa sangka sumpit saja bisa membuat orang berdarah? Tetapi hari ini, persepsimu berubah. Siapa tahu, ini bukan kesalahan dari si pembuat sumpit. Toh, ketika kamu membuka bungkus plastik sumpit tersebut, tubuhmu sudah memberi peringatan lewat sensasi perih di ibu jarimu. Mungkin saja, ini memang murni kesalahanmu. Kamu merasa begitu terbiasa dengan rasa sakit sehingga mengabaikan peringatan dari tubuhmu sendiri.

Ketika kamu menggambar dahulu, kamu sebetulnya bisa saja menggambar sendirian di rumah dan bukannya menggambar di samping temanmu yang amat polos itu sehingga bisa tanpa beban mengatakan bahwa kaki Kakashi yang sedang kamu gambar itu tampak seperti kaki kambing.

Ketika kamu menyukai anak yang gemar bermain game itu, ketika kamu menyukai anak yang menderita leukemia itu, ketika kamu menyukai anak yang sudah punya pacar itu, kamu seharusnya tidak mengabaikan peringatan yang ada. Kamu bisa saja mundur teratur, mencari alternatif yang lebih membahagiakan, dan menjauh dari potensi bahaya yang ada. Dengan begitu, kamu tidak perlu mengenal rasa cemburu. Kamu tidak perlu berkenalan dengan perasaan-perasaan destruktif itu.

Sejak awal, otak dan segenap dirimu telah berusaha melindungimu. Namun, kamu mengabaikannya.

“Aku tidak apa-apa,” katamu setiap kali dirimu terluka. Setiap kali kamu tersayat, terjatuh, terkena panas, dan berdarah, kamu selalu mengatakan itu. Kamu bahkan diam dan tidak sedikit pun mengaduh.

Kamu terlalu merasa terbiasa akan rasa sakit, dan kamu mengabaikan peringatan akan rasa sakit fisik yang bakal timbul. Kamu hidup dengan semua ini, sehingga dengan angkuhnya kamu pun menerapkan pertahanan yang sama terhadap rasa sakit emosional.

Kamu merasa kuat, tapi kenyataannya tidak. Jika kamu kuat, maka kamu tidak akan melukai ujung-ujung jarimu ketika kepalamu penuh terisi olehnya.

Kamu kembali memoles wajahmu dengan bedak, lalu beralih pada bibirmu yang tipis. “Aku tidak apa-apa,” katamu seraya menyapukan lipstik pada bibirmu, sehingga mau tidak mau kamu harus melihat ujung-ujung jarimu yang dilapisi plester penutup luka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s