Air Mata: Komoditas Picisan [2]

[Bagian 2] Yeah, I did cry. I don’t usually cry. But when I do, I mean it. Semua ini sebenarnya merujuk peristiwa pertama di Bagian 1. Seperti yang saya bilang sebelumnya, ini cerita lama dan nggak etis untuk dibahas lagi, tapi ini adalah salah satu bagian dari warna-warni hidup yang bikin saya mikir keras, jadi […]

Air Mata: Komoditas Picisan [1]

[Bagian 1] Belakangan, hal-hal buruk menimpa saya. Yeah, everyone does—I know, I’m not a special snowflake. Tapi, saya nggak akan bilang ini buruk kalau nggak betul-betul buruk, kalau masih bisa saya tepis dengan logika. Kalau begitu, saya nggak akan perlu repot-repot nangis. You didn’t misheard it. I cried, alot. Selama beberapa bulan terakhir ini, ada dua hal […]

Hateful commentary #1

Writing this on this blog after realizing putting this on ask.fm wasn’t enough. I am a hateful person (yes, I admit it), but this doesn’t come without any reason. At least, I don’t ruin one’s mood—even if I did that, I’d try anything to fix it, just because I don’t want people to see me as […]

Untuk Seruni

Seruni, engkau sedang bermain api jiwamu naif sedang kutahu ragamu sebengis mata-mata pada bibirmu, dan masih lagi kauembuskan fragmen napasmu yang harumnya melebur mawar tempo hari tidakkah engkau sadar bahwa mawar itu yang memabukkanmu? Yang mengusirku dari nirwana, lalu jejaknya membekas di kepalaku yang cacat logika. Seruni, engkau sedang memanggil iblis dari hati paling dalam seorang malaikat, […]

Makanan Penjara

Barangkali aku sedang senang —atau pasrah, saat daun di pelupuk mata meranggas sambil tertawa atau hanya jiwaku saja yang dipenjara jari-jari tanganmu yang lentik itu. Di pipimu ada gunung yang berkobar bulu-bulu meremang paling jago merayu mereka yang bebas supaya ikut ke penjara bersamamu supaya terbakar seperti matamu lalu gosong dan habis dimakan kepala sipir. […]